Perpustakaan digital bertujuan untuk membuka akses seluas-luasnya terhadap informasi yang sudah dipublikasikan. Dengan tidak terbatasnya informasi terutama sumber belajar yang dapat diakses oleh siswa dan guru melalui perpustakaan digital akan berdampak pada kegiatan pembelajaran.
MODEL PENGEMBAMBANGAN SIMPUS
Model adalah pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan, pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan. Perpustakaan adalah tempat, gedung, ruang, yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dan dibicarakan. Perguruan Tinggi adalah tempat pendidikan dan pengajaran tingkat tinggi (seperti sekolah tinggi, akademi, universitas).
Perpustakaan Digital merupakan konsep penggunaan teknologi informasi dalam manajemen perpustakaan. Banyak perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia yang sudah menerapkan perpustakaan digital untuk mendukung operasional perpustakaan sehari-hari. Perguruan Tinggi tersebut antara lain: Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Surabaya, Universitas Airlangga, Universitas Sumatera Utara, Universitas Islam Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan lain-lainnya.
Terdapat beberapa model perpustakaan digital antara lain: a. Model Rolands dan Bawden Model yang diusulkan oleh Rolands dan Bawden dalam Pendit (2009), adalah seperti tergambar di bawah ini:
1) PERPUSTAKAAN -gedung, lokasi fisik, koleksi tercetak, ruangan baca, meja referensi, dan sebagainya
2) PERPUSTAKAAN ELEKTRONIK- gedung, lokasi fisik, koleksi tercetak dan elektronik (CD, DVD, Cassete, tape, piringan hitam, disket), ruangan baca, meja referensi, dan sebagainya
3) PERPUSTAKAAN HIBRIDAgedung, lokasi fisik + Internet, koleksi tercetak dan elektronik, ruangan baca, meja referensi + referensi maya + ruang maya (virtual)
4) PERPUSTAKAAN DIGITALdengan atau tanpa lokasi fisik, koleksi digital, ruang dan referensi maya PERPUSTAKAAN MAYAtanpa lokasi fisik, koleksi seluruhnya digital.
Pada gambar di atas terlihat semakin ke atas semakin “fi sik” dimana perpustakaan dapat dikunjungi, diraba/ dipegang dengan indera manusia, dan ditempati oleh pemustaka maupun benda secara fi sik. Selanjutnya semakin ke bawah semakin “maya”, yang hanya ada dalam pikiran manusia dan dapat ditembus tanpa batas ruang dan waktu, dalam bentuk akses secara individual melalui komputer yang tersambung dengan jaringan Internet. Istilah yang sedang populer di masyarakat untuk sisi bagian bawah merupakan “perpustakaan tanpa tembok” (libraries withouth wall).
Model yang ditawarkan oleh Rolands dan Bawden ini memberikan gambaran bahwa model yang paling praktis adalah perpustakaan dalam bentuk perpustakaan silang atau hibrida. Karena pada kenyataannya dapat ditemukan perpustakaan yang memiliki ruang fisik (gedung) maupun ruang maya dalam bentukakses internet yang bisa dibuka di luar gedung perpustakaan.
Sementara istilah perpustakaan tanpa dinding jadi terdengar absurd (agak aneh) sebab betapa pun mayanya sebuah perpustakaan, tetap diperlukan lokasi fisik bagi koleksi-koleksi digital, setidaknya lokasi fisik untuk server dan hard disk atau penyimpan berkas. Terlebih lagi, musti ada manusia yang mengelola alat-alat tersebut, dan manusia itu perlu tembok untuk berlindung ketika bekerja.
Penutup
Nah, sekarang kita telah sama-sama mengenal Sistem Informasi Perpustakaan. Dari Sistem Informasi Perpustakaan. Apa aja sih kesimplulan diatas.
Mempermudah petugas perpustakaan dalam pengolahan data perpustakaan seperti pembuatan laporan (rekapitulasi peminjaman), penghitungan denda dalam pengembalian buku, menambah dan mencari informasi data buku, menambah data anggota serta transaksi peminjaman dan pengembalian buku sehingga mengefektifkan kinerja dari petugas perpustakaan serta menghemat pengeluaran anggaran biaya, waktu, tenaga dan pikiran.
Lingkungan baru, era teknologi, dan informasi menuntut perpustakaan untuk mengubah format layanan dan berbagai fasilitas guna memberikan kenyamanan dan kepastian berkelanjutan bagi pengguna untuk untuk mampu memanfaatkan dan menggunakan sumber daya yang disediakan.
1) PERPUSTAKAAN -gedung, lokasi fisik, koleksi tercetak, ruangan baca, meja referensi, dan sebagainya
2) PERPUSTAKAAN ELEKTRONIK- gedung, lokasi fisik, koleksi tercetak dan elektronik (CD, DVD, Cassete, tape, piringan hitam, disket), ruangan baca, meja referensi, dan sebagainya
3) PERPUSTAKAAN HIBRIDAgedung, lokasi fisik + Internet, koleksi tercetak dan elektronik, ruangan baca, meja referensi + referensi maya + ruang maya (virtual)
4) PERPUSTAKAAN DIGITALdengan atau tanpa lokasi fisik, koleksi digital, ruang dan referensi maya PERPUSTAKAAN MAYAtanpa lokasi fisik, koleksi seluruhnya digital.
Komentar
Posting Komentar